Saturday, April 15, 2017

Konsep Dasar Paleontologi

1. Taksonomi
     Taksonomi adalah pengelompokan organisme berdasarkan kesamaan ciri fisik tertentu. Dalam penyebutan organisme sering dipergunakan istilah taksa apabila tingkatan taksonominya belum diketahui. Unit terkecil dalam taksonomi adalah spesies, sedangkan unit tertinggi adalah kingdom. Diantara unit-unit baku dapat ditambahkan super jika terletak di atas unit baku, contoh: super kingdom, merupakan unit yang lebih tinggi dari kingdom. Jika ditambahkan sub terletak di bawah unit baku, contoh: sub filum, terdapat di bawah unit filum.
2. Spesifikasi Nama
     Deskriptif, Pemberian nama di dasarkan pada ciri fisik, dapat berupa:
a. Bentuk tubuh: Turritella angulata, memperlihatkan bentuk tubuh turreted (meninggi) dan menyudut pada kamarnya.
b. Struktur: Tubipora musica, memperlihatkan struktur tubuh berpipa (tube) dan terangkai seperti alat musik (musica).
c. Geografis: Pemberian nama yang didasarkan pada lokasi dimana fosil tersebut pertama kali diketemukan. Contoh: Fussulina sumatrensis, Fussulina yang diketemukan di sumatera.
d. Personal: Mencantumkan nama penemunya. Contoh: Discoater martinii, Martini adalah penemu fosil tersebut
3. Filogeni
     Filogeni adalah ilmu yang mempelajari hubungan kekerabatan suatu organisme dengan organisme lainnya. Hubungan tersebut ditentukan berdasarkan morfologi hingga DNA. Filogeni sangat diperlukan dalam mempelajari proses evolusi dan penyusunan taksonomi. Evolusi sendiri dapat diartikan sebagai perubahan yang berangsur-angsur dari suatuorganisme menuju kepada kesesuaian dengan waktu dan tempat. Jadi evolusi sendirimerupakan proses adaptasi dari suatu organisme terhadap lingkungannya. Metode Penyusunan Filogeni terdiri dari metode:
a. Fenetik, Metode penyusunan filogeni dengan pendekatan analisa numerik. Pendekatan tersebut meliputi penghitungan Indeks ketidaksamaan, Indeks keanekaragaman, Analisa pola dan berbagai indeks yang lain. Dalam pendekatan fenetik semua subyek dan faktor yang dianalisispunya kedudukan yang sama.
b. Kladistik, Metode ini muncul atas dasar pemikiran bahwa proses alamiah akan selalu mengambil jalan yang paling singkat. Dalam kladistik setiap ciri fisik mempunyai tingkatan yang berbeda.
4. Metode Identifikasi
a. Morfologi. Pendekatan morfologi berupa deskriptif kualitatif. Meliputi bentuk tubuh, struktur yang biasanya berkembang, dan sebagainya.
b. Biometri. Pendekatan secara kuantitatif, yaitu berdasarkan ukuran tubuh dari suatu organisme.

Hubungan Paleontologi dengan Ilmu Lainnya

     Paleontologi berkaitan erat tentang fosil dan perkembangan makhluk hidup hingga sekarang. Sehingga paleontoligi berhubungan erat dengan ilmu evolusi. Tapi sampai sekarang, ilmu tentang evolusi banyak sekali terdapat pro dan kontra, banyak yang setuju dengan ilmu ini, tetapi lebih banyak yang menolaknya. Tapi dalam hal ini, paleontology sangat berkaitan dengan evolusi, bahkan sangat menunjang, untuk membuktikan kebenarannya. Sebagai satu cabang ilmu yang memiliki ruang lingkup kajian yang sangat luas, paleontologi tidak dapat berdiri sendiri dan memiliki kaitan yang sangat erat dengan cabang keilmuan yang lain antara lain adalah 
1. Biostratigrafi
     Biostratigrafi merupakan ilmu penentuan umur batuan dengan menggunakan fosil yang terkandung didalamnya. Biasanya bertujuan untuk korelasi, yaitu menunjukkan bahwa horizon tertentu dalam suatu bagian geologi mewakili periode waktu yang sama dengan horizon lain pada beberapa bagian lain. Fosil berguna karena sedimen yang berumur sama dapat terlihat sama sekali berbeda dikarenakan variasi lokal lingkungan sedimentasi. Sebagai contoh, suatu bagian dapat tersusun atas lempung dan napal sementara yang lainnya lebih bersifat batu gamping kapuran, tetapi apabilakandungan spesies fosilnya serupa, kedua sedimen tersebut kemungkinan telah diendapkan pada waktu yang sama. Amonit, graptolit dan trilobit merupakan fosil indeks yang banyak digunakan dalam biostratigrafi. Mikrofosil seperti acritarchs, chitinozoa, conodonts, kista dinoflagelata, serbuk sari, sapura dan foraminifera juga sering digunakan. Fosil berbeda dapat berfungsi dengan baik pada sedimen yang berumur berbeda; misalnya trilobit, terutama berguna untuk sedimen yang berumur Kambrium. Untuk dapat berfungsi dengan baik, fosil yang digunakan harus tersebar luas secara geografis, sehingga dapat berada pada bebagai tempat berbeda. Mereka juga harus berumur pendek sebagai spesies, sehingga periode waktu dimana mereka dapat tergabung dalam sedimen relatif sempit, Semakin lama waktu hidup spesies, semakin tidak akurat korelasinya, sehingga fosil yang berevolusi dengan cepat, seperti amonit, lebih dipilih daripada bentuk yang berevolusi jauh lebih lambat, seperti nautoloid.
2. Kronostratigrafi 
     Kronostratigrafi merupakan cabang dari stratigrafi yang mempelajari umur strata batuan dalam hubungannya dengan waktu. Tujuan utama dari kronostratigrafi adalah untuk menyusun urutan pengendapan dan waktu pengendapan dari seluruh batuan didalam suatu wilayah geologi, dan pada akhirnya, seluruh rekaman geologi Bumi. Tata nama stratigrafi standar adalah sebuah sistem kronostratigrafi yang berdasarkan interval waktu paleontologi yang didefinisikan oleh kumpulan fosil yang dikenali (biostratigrafi). Tujuan kronostratigrafi adalah untuk memberikan suatu penentuan umur yang berarti untuk interval kumpulan fosil ini. 
3. Mikropaleontologi 
     Mikropaleontologi merupakan cabang paleontologi yang mempelajari mikrofosil. Mikrofosil adalah fosil yang umumnya berukuran tidak lebih besar dari empat millimeter, dan umumnya lebih kecil dari satu milimeter, sehingga untuk mempelajarinya dibutuhkan mikroskop cahaya ataupun elektron. Fosil yang dapat dipelajari dengan mata telanjang atau dengan alat berdaya pembesaran kecil, seperti kaca pembesar, dapat dikelompokkan sebagai makrofosil. Secara tegas, sulit untuk menentukan apakah suatu organisme dapat digolongkan sebagai mikrofosil atau tidak, sehingga tidak ada batas ukuran yang jelas. 
4. Palinologi 
     Palinologi merupakan ilmu yang mempelajari polinomorf yang ada saat ini dan fosilnya, diantaranya serbuk sari, sepura, dinoflagelata, kista, acritarchs, chitinozoa, dan scolecodont, bersama dengan partikel material organik dan kerogen yang terdapat pada sedimen dan batuan sedimen.

Ruang Lingkup Paleontologi

     Pada dasarnya ruang lingkup paleontologi berkisar tentang segala sesuatu yang telah hidup di masa lalu atau bisa dikatakan organisme purba (baik hewan, tumbuhan, protista, jamur maupun bakteri) yang hingga kini sudah punah dan hanya tertinggal fosil-fosil, jejak peradaban, lingkungannya dan peninggalan-peninggalan lainnya. Sehinggga kita hanya meneliti dari jejak-jejak yang tertinggal. Secara umum paleontologi dapat digolongkan menjadi dua yaitu Paleobotani (tumbuhan purba) dan Paleozoologi (hewan purba). Jadi ruang lingkup paleontologi terbagi dalam paleobotani dan paleozoologi. 
1. Paleobotani (Tumbuhan purba) 
     Paleobotani (dari bahasa Yunani paleon berarti tua dan botany yang berarti ilmu tentang tumbuhan) adalah cabang dari paleontologi yang khusus mempelajari fosil tumbuhan. Kajian Paleobotani meliputi aspek fosil tumbuhan, rekonstruksi taksa, dan sejarah evolusi dunia tumbuhan. Tujuan mempelajari Paleobotani adalah:
a. Untuk rekonstruksi sejarah dunia tumbuhan. Hal ini dapat dilakukan karena fosil tumbuhan dari suatu kolom geologis tertentu berbeda dengan yang terdapat pada kolom geologis lainnya. Dengan demikian dapat diketahui jenis tumbuhan yang ada dari waktu ke waktu, atau dengan kata lain dapat diketahui sejarahnya, khususnya mengenai kapan kelompoktumbuhan tersebut mulai muncul di muka bumi, kapan perkembangan maksimalnya, dan kapan kelompok tumbuhan tersebut punah.
b. Untuk keperluan analisa pola dan suksesi vegetasi dari waktu ke waktu.
c. Untuk analisa endapan dari masa karbon ( khususnya yang mengandung sisa tumbuhan ), yang berpotensi dalam presiksi sifat- sifat batubara. Dengan demikian dapat diketahui macam batubara serta dari tumbuhan apa batubara tersebut berasal.
d. Untuk dapat melakukan dedukasi mengenai aspek-aspek perubahan iklim. Dengan cara ini maka dimungkinkan untuk merekonstruksi lingkungan masa lampau beserta perubahan-perubahan yang terjadi, dan juga untuk mempelajari hubungan antara tumbuhan dengan hewan yang menghuni lingkungan tersebut. Salah satu perubahan iklim yang seringkali dapat diungkap dengan pendekatan ini adalah perubahan ternperatur rata-rata.
2. Paleozoologi (Hewan vertebrata dan invertebrata purba) 
     Paleozoologi (berasal dari bahasa Yunani: paleon = tua dan zoon = hewan) adalah cabang dari paleontologi atau paleobiologi, yang bertujuan untuk menemukan dan mengindentifikasi fosil hewan bersel banyak dari sistem geologi atau arkeologi, untuk menggunakan fosil tersebut dalam rekonstruksi lingkungan dan ekologi prasejarah. Jadi tujuan dari mempelajari paleozoologi adalah:
a. Rekonstruksi sejarah kehidupan pada masa lampau baik di bidang hewan dan perkembangan manusia. Proses rekonstruksi kehidupan dilakukan melalui rekonstruksi fosil karena fosil ditemukan dalam lapisan/strata batuan yang berlainan sehingga dapat diketahui perkiraan waktu munculnya dan kehidupan makhluk yang telah menjadi fosil tersebut.
b. Analisa pola dan suksesi suatu vegetasi dari waktu ke waktu. Kehidupan pada masa purba di mana kondisi bumi yang dinamis sangat memungkinkan terjadinya perubahan kondisi lingkungan yang ekstrim sehingga mempengaruhi kehidupan spesies dan vegetasi tanaman
c. Analisa mengenai aspek-aspek perubahan iklim yang terjadi. Cara ini bermanfaat untuk merekonstruksi dampak perubahan iklim pada lingkungan, mempelajari bagaimana hubungan antara hewan dan tumbuhan yang hidup pada lingkungan tersebut.
d. Analisa kehidupan biokultural manusia sejak manusia muncul di bumi, proses evolusinya melalui masa dan wilayah distribusinya seluas dan selama mungkin.
e. Analisa proses adaptif yang dilakukan makhluk hidup terhadap perubahan kondisi lingkungan, makhluk yang mampu beradapatasi akan terus bertahan walaupun peiode waktu geologi terus berjalan sedangkan yang tidak mampu beradaptasi akan punah. Proses adaptasi membuka zona adaptif yang baru yaitu suatu kumpulan kondisi hidup dan sumber daya baru yang memberikan banyak kesempatan yang sebelumnya tidak dimanfaatkan.

Monday, April 10, 2017

PHYLUM MOLLUSCA

6.1. Dasar Teori
     Mollusca merupakan hewan yang mempunyai bagian tubuh yang lunak dengan dilapisi oleh bagian kulit yang keras. Hidup dari zaman Kambrium sampai Resen. Mollusca merupakan golongan invertebrata yang penting dan banyak jumlah spesiesnya. Habitat dari Mollusca dapat di laut air setengah asam (brackish water) maupun air tawar.
     Mollusca sudah memiliki organ tubuh yang kompleks. Pada bagian permukaan ventral sudah dilengkapi dengan organ kaki, yang pada beberapa kelompok digunakan untuk merayap, menggali membuat lobang, berenang, dsb. Mollusca juga diperlengkapi dengan organ mulut, perut, usus, dan juga anus.

Sifat Umum Phylum Mollusca
1. Mempunyai bagian tubuh yang lunak dengan dilapisi oleh bagian kulit yang keras 
2. Merupakan golongan hewan yang tidak bertulang belakang 
3. Mempunyai daya adaptasi yang tinggi 
4. Hidup pada air asin, payau hingga air tawar 
5. Muncul dari Zaman Kambrium hingga sekarang 
6. Tubuh Mollusca terdiri dari kaki, massa viseral, dan mantel 
7. Ukuran dan bentuk tubuh Mollusca sangat bervariasi 

     Pembagian taksonominya dadasarkan atas perbedaan dibandingkan dibagian yang keras, meliputi ornamen spine maupun bentuk - bentuk test. Juga didasarkan atas perbedaan pada bagian lunak,seperti sistem urat daging (muscl system), urat syaraf (nerves), atau bagian halus lainnya.
Berdasarkan perbedaan teresebut, Molusca dibagi dalam lima kelas, yaitu:
1. Klas Amphineura, fosil jarang terdapat (umur : Kambrium-sekarang).
2. Klas Scaphoda, fosil jarang dalam batuan yang lebih tua dari Mesozoik.
3. Klas Pelecypoda, masuk dalam banyak genus & spesies, hidup dari Ordovisium bawah - sekarang.
4. Klas Gastropoda, fosil melimpah dan terekam luas dari Kambrium - sekarang.
5. Klas Cephalopoda, lazim pada batuan Paleozoik, sangat melimpah pada Mesozoik.

1. Klas Amphineura
     Hewan Mollusca kelas Amphineura ini hidup di laut dekat pantai atau di pantai. Tubuhnya bilateral simetri, dengan kaki di bagian perut (ventral) memanjang. Ruang mantel dengan permukaan dorsal, tertutup oleh 8 papan berkapur, sedangkan permukaan lateral mengandung banyak insang. 
Hewan ini bersifat hermafrodit (berkelamin dua), fertilisasi eksternal (pertemuan sel teur dan sperma terjadi di luar tubuh). Contohnya Cryptochiton sp atau kiton. Hewan ini juga mempunyai fase larva trokoper. 

2. Klas Scaphopoda
      Dentalium vulgare adalah salah satu contoh kelas Scaphopoda. Jika Anda berjalan-jalan di pantai, hati-hati dengan cangkang jenis Scaphopoda ini. Karena biasanya hewan ini tumbuh di batu atau benda laut lainnya yang berbaris menyerupai taring. 
Dentalium vulgare hidup di laut dalam pasir atau lumpur. Hewan ini juga memiliki cangkok yang berbentuk silinder yang kedua ujungnya terbuka. Panjang tubuhnya sekitar 2,5 s.d 5 cm. Dekat mulut terdapat tentakel kontraktif bersilia, yaitu alat peraba. Fungsinya untuk menangkap mikroflora dan mikrofauna. Sirkulasi air untuk pernafasan digerakkan oleh gerakan kaki dan silia, sementara itu pertukaran gas terjadi di mantel. Hewan ini mempunyai kelamin terpisah.

3. Klas Pelecypoda (Lamellibranchia)
     Hidup dari zaman Ordovisium bawah samai Resen. Ciri utama hewan ini memiliki test (cangkang) terdiri dari dua buah (bivalve) yang sama besar (equivalve) dan berbentuk dari zat gampingan. Kedua valve ini dihubungkan satu sama lain dengan sistem engsel yang terdiri dari gigi dan socket (ruang antar dua gigi). Bagian dalam test (valve) dilapisi membran yang tipis disebut mantle, yang mana kearah posterior kulit mantel ini membentuk siphon semacam saluran. Saluran - saluran tersebut dapat tergabung menjadi tabung besar yang kemudian dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu :
1. Incurrent siphon, berfungsi untuk memasukkan air + O2 + makanan.
2. Excurrent siphon, berfungsi untuk mengeluarkan air dan kotoran.
     Pelecypoda yang hidup di lumpur memiliki siphon yan lebih besar dan pelecypoda hidup di lingkungan laut. Kulit mantle tersebut melekat dipinggir kulit kerangnya dan biasanya meninggalkan bekas berupa garis yang disebut garis mantel (pallial line). Untuk menutup shellnya digunakan adductor, biasanya berpasangan. Adductor ini meninggalkan bekas disebut dengan muscle sear. Sedanglan untuk membuka shellnya digunakan ligamen berbentuk menyerupai pita dan bersifat elastis. Sedangkan kelompok pelecypoda yang tidak mempunyai ligamen menggunakn resilium yaitu cairan yang terdapat pada resilifer berbentuk segitiga.
     Pelecyoda memiliki alat untuk bergerak yang disebut dengan foot. Posisi foot terletak pada bagian anteroventral, yaitu dibagian dalam pada ventral-nya. Foot ini berfungsi untuk berpindah tempat dan menggali.
     Pelecypoda juga mempunyai bagian lunak yang disebut dengan visceral, terdiri dari mooth (mulut), esophagus (usus), stomach (lambung), intestine (saluran buang), dan anus (lobang pembuangan).
     Bagian shell dari Pelecypoda berupa biconvex, tersusunn oleh unsur gampingan yang dihubungkan dengan dorsal hinge line. Kedua va;ve tersebut 
terbagi atas right valve dan left valve. Bagian shell yang tunbuh pertama kali disebut dengan beak, sedangkan bagian yang tumbuh berikutnya adalah umbo. Bagian atas atau yang terdapat hinge line kita sebut dorsal, sedang bagian bawah kita namakan ventral. Bagian yang ditunjukkan oleh pallial sinus disebut sebagai anterior, bagian lain kita sebut posterior. Selain itu kita dapat melihat pula besarnya muscle sear-nya, yaitu apabila muscle sear-nya besar bagian tersebut adalah posterior. Jika hanya ada satu musce sear, bagian yang terdapat muscle sear adalah posterior.

Berdasarkan pembagian yang dikemukakan oleh Thicle (1935), ada 3 ordo, yaitu
1. Ordo Taxodonta
2. Ordo Anisomyaria
3. Ordo Eulamelliranchia

3.1. Ordo Taxodonta
     Ordo Taxodonta ini dicirikan oleh adanya gigi yang hampir sama besarnya dan berjumlah lebih kurang 35 buah. Umunya mempunyai muscle sear dua (dimyaria).
Sub Ordo Nuculacea, dicirikan dengan bentuk gill-nya (alat pernapasan) berupa protobranch.
Contoh genus Nucula, Ctenodonia.
Sub Ordo Arcacea, dicirikan dengan bentk gill-nya berupa filibranch. Contoh genus Arca ,Cyrtodonta.

3.2. Ordo Anisomyaria
     Ordo Anisomyaria ini dicirikan oleh adanya gigi dan socket sebanyak dua buah. Muscle sear biasanya satu atau apabila hadir dua, muscle sear bagian posterior lebih besar. Hidup dari zaman Ordovisium sampai Resen.
Sub Ordo Pteriacea, contoh Pterinea dan inoceramus.
Sub Ordo Ostreacea, contoh Ostrea, Exogyra.
Sub Ordo Peetinacea, memiliki shell yag equivalve, shell berbentuk agak membulat dengan permukaannya costate atau plicate. Contoh Pecten.
Sub Ordo Anominacea, memiliki shell equivalve, shellnya tipis serta concave pada bagian kanan dan convex bagian kiri. Contooh Anomia.
Sub Ordo Mytilacea, struktur gill berupa fillbranch, shell-nya simetri bilateral, dengan bentuk bervariasi. Contoh Mytilus.

3.3. Ordo Eulamellibranchia
     Merupakan ordo dari pelecypoda yang terbesar dan terpenting. Saat ini diperkirakan ada sedikit sub ordo yang sudah dikenal. Ordo Eulamellibranchia ini dicirikan oleh dua muscle scar yang besar, gigi - gigi yang ada sama besar. Nama Eulamellibrachia diambil dari tipe gill-nya, eulamellibrachiate. Muncul dari zaman silur sampai resen. 
Sub Ordo Carditacea, mempunyai ciri - ciri muscle scar sama besar, mempunyai gigi han sepanjang valvenya, umbo terletak pada anterior. Contoh : venericardia (Eosen).
Sub Ordo Tellmacea, memiliki gigi dari bawah beak sampai bagian antrior dan posterior. Mempunyai ligament dan terletak dibelakang beak, pallia sinus-nya besar. Contoh : Tellina (Yura -Resen).
Sub Ordo Trigoniacea, memiliki bentuk shell trigonal, siphon belum berkembang sempurna. Contoh : Trigonia (Yura - Resen).
Sub Ordo Saxicavacea, memiliki bentuk ligamen yang terdapat pada resilifer pada bagian engselnya, engsel hanya memiliki satu gigi utama. Contoh : Saxicava (Tersier - Resen).
Sub Ordo Rudistacea, memiliki permukaan shell yang beralur, inequivalve, bentuk - bentuk spiral pada shell tidak ada. Contoh : Hippurites (Kapur).

     Kehidupan pelecypoda dapat dijumpai pada lingkungan air tawar maupun air laut. Dengan cara hidup menggali lobang pada dasar sungai maupun laut. Pada kehidupan laut pelecypoda biasanya dicirikan oleh shell memiliki ornamen yang bagus, sedangkan pada air tawar biasanya ornamennya kurang berkembang baik. Saat ini pelecypoda dimanfaatkan baik dari mutiaranya maupun untuk dimakan.

4. Klas Gastropoda
Gastropoda berasal dari kata  
- Gaster : perut
- podos : kaki 
     Jadi Gastropoda adalah hewan yang bertubuh lunak, berjalan dengan perut yang dalam hal ini disebut kaki Gastropoda adalah hewan hemafrodit, tetapi tidak mampu melakukan autofertilisasi. Beberapa contoh Gastropoda adalah bekicot (Achatina fulica), siput air tawar (Lemnaea javanica), siput laut (Fissurella sp), dan siput perantara fasciolosis (Lemnaea trunculata).   
     Gastropoda ini mencakup golongan siput, baik yang membentuk cangkang maupun yang tidak (siput telanjang = slug). Bagi yang bercangkang umumnya cangkang tersebut terputar. Gastropoda umumnya mempunyai kepala yang jelas lengkap dengan mulut, mata dan tentakel dan kaki yang merupakan bagian yang ceper dibawah perut. Bagian kepala dan kaki dapat ditarik masuk kedalam cangkang melewati lubang utama pada cangkang tersebut (apertur), dan beberapa jenis diantaranya mempunyai penutup (operculum) yang tumbuh pada bagian kaki tersebut.
     Cangkangnya berkembang sebagai tabung yang mekar yang terputar secara spiral melingkari suatu sumbu yang berlubang yang disebut columella. Bagian cangkang yang berupa satu lingkaran teresebut disebut satu putaran. Putaran yang terakhir dan terbesar disebut sebagai body whorl. Kontak antar putaran berupa garis yang disebut sebagai sutur. Dinding dari cangkang sering menunjukkan hiasan yang sangat bervariasi, dengan bentuk lekukan, tonjolan, duri, alur, pematang dan garis tumbuih atau kombinasi dari semua itu.
     Gastropoda dapat kita jumpai pada lingkugan darat, air tawar, air payau sampai dengan laut. Klas ini merupakan yang terbesar didalam phlum mollusca, hidup sejak zaman kambrium sampai sekarang. Seara umum gastropoda mempunyai satu shell, beberapa diantaranya memiliki bentuk - bentuk arsitektual yang bagus serta warna - warna yang indah. Bentuk shellnya sendiri berupa pilinan terputar meninggi.
     Untuk golongan yang hidup di laut dangkal yang hampir jenuh dengan senyawa karbonat biasanya akan mempunyai ukuran cangkang yang relatif besar, dinding cangkang yang tebal serta mempunyai hiasan yang kompleks. Sedangkan golongan yang berdinding tipis dengan hiasan sederhana atau bahkan tanpa hiasan sama sekali menunjukkan lingungan perairan yang tidak jenuh karbonat, yaitu lingungan air tawar atau sebaliknya lingkungan laut yang dalam.
     Cara hidup gastropoda adalah aquatic, berpindah tempat dengan cara merayap menggunakan kaki, sampai sekarang ada sekitar 50.000 spesies telah diketahui, 15.000 diantaranya berupa fosil dan sekitar 35.000 masih hidup sampai sekarang.

Tubuh Lunak
     Tubuh lunak dari gastropoda ini terdiri atas tiga bagian, yaitu kepala, kaki, dan alat pencernaan. Bagian vital ini dilindungi oleh semacam selubung atau mantel berupa membran yang tipis. Membran teersebut memanjang membentuk siphon yang berfungsi sebagai alat untuk memasukkan air dan mengeluarkan kotoran. Untuk yang memliki perkembangan yang baik, pada bagian kepala dilengkapi dengan mulut, sepasang mata diujung belalai, selain itu juga mempunyai sepasang tentakel sebagai alat sensor. Dibagian dalam mulut, dijumpai radula dengan deretan gigi - gigi. Pada beberapa gastropoda juga dijumpai adanya rahang pada bagian dorsal (bawah). Adanya radula dengan sederetan giginya merupakan organ yang berfungsi untuk membasahi dan memegang.

Tubuh Keras (shell)
     Bentuk lengkap shell dari gastropoda berupa satu shell yang terpilin memanjang didalam satu garis sumbu. Shell gastropoda terdiri atas, pada bagian awal disebut dengan nuclear whorls. Nuklear whorls biasanya pada permukaannya mulus (smooth). Perkembangan shell dibawah nuclear whorls disebut dengan whorls. Batas antara whorls disebut dengan suture. Apabila whorls berkembang sampai akhir, maka sekumpulan whorls disebut dengan spire. Pada putaran terakhir akan dijumpai adanya lobang yang kita sebut dengan aperture, yang pada beberapa jenis gastropoda dilengkapi dengan plat penutup yang disebut dengan operculum. Lobang yang berada pada sumbu perputaran whorls disebut dengan umbilicus.

     Beberapa shell memiliki arah perputaran sinistral (mengkiri / berlawanan arah jarum jam) atau dextral (mengkanan / searah jarum jam). Perputaran bisa disebut tinggi atau terputar rendah, rendah jika sudut putaran lebih besar dari 30⁰. Pada kamar terakhir biasanya akan memperlihatkan adanya siphonal canal.

Klasifikasi
     Klasifikasi dari gastropoda modern hampir seluruhnya didasarkan pada bagian yang lunak, diantaranya yang dianggap paling penting adalah :
1. Respiratory organs (alat pernapasan)
2. Nervous system (system urat saraf)
3. Heart (hati)
4. Reproductive organs (alat perkembangbiakan)
5. Foot (kaki)
6. Radular complex
      Sedangkan untuk kategori taxonomi yang lebih rendah (family dan genus) didasarkan pada ciri khas shell.
     Bila ditinjau dari bagian-bagian tersebut diatas maka kesemuanya merupakan bagian-bagian yang lunak, yang kelak tidak akan dijumpai dalam bentuk fosil. Oleh karena itu, dasar pembagian tersebut diatas tidak dapat dipakai dalam klasifikai paleontology. Dalam hal ini untuk “foot” (kaki) akan menentukan ukuran dan bentuk bagian yang keras. Untuk paleontology yang dipakai adalah klasifikasi yang diusulkan oleh THIELE (1931), yang kemudian diikuti oleh WENZ (1938) dan KNIGHT (1944). Dasar pembagian dari klasifikasi ini adalah sifat dan posisi gill dan sebagian pada kenampakan anatomi lainnya (hubungan bagian lunak binatangnya dengan bagian yang keras) serta hiasan yang ada.
Klasifikasi Gastropoda menurut THIELE (1931), WENZ (1938) dan KNIGHT (1944).
Subclass 1. Protogastropoda
Ordo 1.1. Cynostraca L. Camb - Carb? Perm
Ordo 1.2. Cochliostraca L.Camb - Ord
Subclass 2. Prosobranchia
Ordo 2.1. Archaeogastropoda (Aspidobtanchia) U. Camb - Recent
Ordo 2.2. Mesogastropoda (Taenioglossa) L. Ord - Recent
Ordo 2.3. Neogastropoda (Stenoglossa) Ord - Recent
Subclass 3. Opisthobranchia
Ordo 3.1. Pleurocoela Carb - Recent
Ordo 3.2. Pteropoda ? L. Camb? Perm; Cret - Recent
Ordo 3.3. Acoela Eocene - Recent
Subclass 4. Pulmonata
Ordo 4.1. Basommatophora U. Carb - Recent
Ordo 4.2. Stylommatiphora U. Cret - Recent

Subclass 4.1. Protogastropoda
     Subclass yang telah punah ini termasuk yang paling awal diketahui sebagai shell gastropoda, yang bentuknya (kerucut) dan shell-nya terputar secara planispiral. Kisaran umurnya dari Kambrium bawah- Karbon? Perm.
     Berasal dari kata protos = first = pertama + gaster = stomach = perut + podos = kaki. Menunjukkan kenyataan bahwa adalah gastropoda paling awal.

Ordo 4.1.1. Cynostraca
     Kyon = dog + ostracon = shell, menunjukkan bahwa shellnya seperti gigi anjing. Ordo ini yang mempunyai bentuk conical (kerucut), terputar planispiral dan permukaan shell yang halus maupun yang ada hiasan (sculptured). Anggota ordo ini dianggap paling primitive dari semua gastropoda. Yang paling awal mewakili ordo ini muncul dalam batuan kambrium Bawah, dan tampaknya punah kadangkala pada Karbon atau Perm.
Contoh: Scenella dan Palaeacmaea.

Ordo 4.1.2. Cochliostraca
     Kochlos = spiral shell + ostracon = shell, menunjukkan putaran spiral dari shell-nya. Ordo ini termasuk yang paling awal diketahui sebagai gastropoda yang shell-nya terputar. Yang pertama mewakili adalah dari batuan Kambrium Bawah-Ordovisium. Shell terputar secara planispiral. 
Contoh: Pelagiella dan Matherella.

Subclass 4.2. Prosobranchia
     Yang paling utama dari gastropoda marine. Sebagian shellnya terputar secara dextral, dan putarannya adalah helicoids. Tetapi ada juga yang berbentuk cap (seperti sumbat), bentuk cup. Yang lebih primitive adalah nonsiphonate, dan yang lebih modern/ maju adalah siphonate. Biasanya ada operculum (penutup aperture) yang tersusun oleh zat tanduk atau gampingan. Prosobranchia merupkan subclass yang paling besar. Sejarah geologinya mulai dari akhir Kambrium, dan mereka telah meninggalkan fosil dalam batuan pada setiap periode geologi.

Ordo 4.2.1. Archaeogastropoda (Aspidobranchia)
     Ordo ini paling primitive diantara Prosobranchia. Shellnya tidak tersendiri, karena banyak variasinya dalam arsitektur, tetapi mereka dicirikan oleh seleni zone (slit band). Operculum mungkin ada atau tidak ada. Shell yang paling tua datang dari batuan yang berumur Kambrium Atas. Ordo ini sebagian besar adalah marine, terbaik diwakili oleh fauna marine modern, dan merreka juga anggota gastropoda air tawar dan darat. Walaupun sedikit. Ada dua sub ordo dari Prosobranchia yang masih hidup yaitu Docoglossa dan Rhipidoglossa. Docoglossa adalah gastropoda yang shell-nya berbentuk kerucut terbuka (open-conical shell) dan terputar secara spiral.
Contoh: Acmaea.
     Rhipidoglossa termasuk gastropoda yang shellnya terputar spiral, mempunyai operculum. Semuanya adalah khas marine kecuali tiga family yaitu Neritidae, Helicinidae dan Proserpinidae. Family Neritidae adlaah marine, lainnya hidup dalam air tawar, dan sedikiit diantaranya telah meluas ke lingkungan daratan.
     Karena radula tidak pernah terawetkan dalam gastropoda purba, dan jika ada jarang dalam bentuk-bentuk fosil yang paling muda. Tidak mungkin ditunjukkan fosil geus dari sub ordo Docoglossa dan Rhipidoglossa.
Archaeogastropoda dibagi menjadi 5 super family:
1. Super family Bellerophontacea
Contoh : Cyrtolites (Ordocisium)
Salpingostoma (Ord - Devon)
Knightites (Karbon Atas)
2. Super family Pleurotomariacea
Contoh : Rhacopea ( Kambrium Atas - Ord. Bawah)
Ophileta (Ordocisium)
Loxoplocus (Ordovisium)
Pleurotomaria (Silur-Sekarang)
Fissurella (Sekarang)
3. Super family Trochacea
Contoh: Astrea (Miosen - Sekarang)
4. Super family Euomphalacea
Contoh : Ceratopea (Ordovisium)
Maclurites (Ordocisium)
Lytospira (Ord - Silur)
Strapalorus (Silur - Devon)
5. Super family Trochonematacea
Contoh : Trochonema (Ord - Devon)
Platyostoma (Silur - Devon)
Orthonychia (silur - Perm)

Ordo 4.2.2. Mesogastropoda
     Ordo ini merupakan ordo yang besar dan penting dari gastropoda prosobranchia, termasuk sub ordo Gymnoglossata, sub ordo ptenoglossa, dan sub ordo taenioglossa dan tersusun oleh banyak family dari genus yang masih hidup maupun yang telah menjadi fosil diantaranya yang marine, air tawar dan darat. Shell biasanya helicoids tetapi mungkin discoid.
Fosil yang paling awal mewakili dating dari batuan Ordovisium
Genus Palaozoic : Meekospira, Acanthonema, Girtyospira, Orthonema.
Genus Mesozoic dan Cenozoic : Vermucularia, Crepidula, Lambis, Rostellaria, Cyrpraea, Ampnilaria, Littorina.

Ordo 4.2.3. Neogastropoda
    Neogastropoda yang termasuk sejumlah besar genus yang masih hidup (Murex, Voluta, Oliva, Conus, dan Terebra) adalah gastropoda yang mempunyai operculum yang tepi aperture dasi shellnya mempunyai siphonal canal. Operculum bersifat zat tanduk (horny). Ordo ini yang tampaknya muncul dalam Awal Ordovisium, dibagi dalam 4 super family yang masih hidup (tidak semua genus fosil dimasukkan dalam super famili ini).
1. Super family Muricacea (U. Cret - Recent)
Contoh : Sargana, Rapana, Purpura, Murex, Urosalpinx
2. Super family Buccinacea (U. Cret - Recent)
Contoh : Pyrene, Bucinum, Busycon, Fusus
3. Super family Volutacea (U. Cret - Recent)
Contoh : Oliva, Harpa, Voluta, Cymbium, Mitra, Cancellaria.
4. Super family Conacea (U. Cret - Recent)
Contoh : Drllia, Conus, Terebra
Genus Paleozoic : Subulites
    Tersier     : Falsifusus

Subclass 4.3. Opisthobranchia
     Opisthem = behind = belakang + branchia = gill = insang menunjukkan bahwa posisi gill terletak dibelakang hati. Opisthobranchia biasanya mempunyai gill tunggal, nephridium dan auricle. Organ pernapasan jika ada pada bagian posterior (belakang), jika tidak ada binatangnya menggunakan permukaan luar mantle untuk pernapasan.
     Shell jika ada adalah relative kecil dan arsitekturnya sederhana dan pada bentuk dewasa kecuali dalam Actaeonidae dan Limacinidae tanpa operculum. 4 ordo dikenal oleh Thiele (1931) dan Wenz (1938). Subclass hanya mempunyai sedikit fosil yang terawetkan dalam batuan, tetapi terwakili dengan baik di lautan modern oleh banyaknya macam-macam genus.

Ordo 4.3.1. Pleurocoela (Tectibranchia = Steganobranchia)
     Shell biasanya tipis dan tidak berkembang baik. Fosil yang tertua dari Pleurobranchia adalah dari batuan karbon.
Contoh : Actaneon (Cret - Recent), Aplysia (Recent), Bulla (Jura - Recent), Haminea (Recent)

Ordo 4.3.2. Pteropoda
Pteron = wing = sayap + podos = foot = kaki, menunjukkan kakinya seperti sayap.
Pteropoda adalah apisthobranchia yang hidupnya berenang. Mereka biasanya berukuran kecil, tetapi melimpah dan menutupi permukaan laut. Shell mempunyai komposisi gampingan.
Contoh : Vaginella (U. Cret - Olig), Lamacina (Tert - Recent)
Cavolina (Mioc - Pleist), Coleoloides (L. Camb)
Hyolithes (Camb - Perm), Tentaculites (Ord - Devon)
Styliolina (Devon)

Ordo 4.3.3. Sacoglossa
     Ordo ini terdiri dari kelompok kecil opisthobranchia yang dicirikan oleh shell yang tipis. Shell hanya menutupi sebagian kecil bagian lunaknya. Tidak pernah dijumpai sebagai fosil.

Ordo 4.3.4. Acoela (Nudibranchia)
     Shell jika ada kecil, mempunyai bentuk seperti telinga. Hanya satu family yaitu Umbraculidae yang telah meninggalkan fosil, mulai muncul pada kala Eocene.
Contoh : Eolis.

Subclass 4.4. Pulmonata
     Pulmonata merupakan kelompok kedua terbesar dari gastropoda dan jumlah spesies yang diketahui diduga 7.000, 6.300 masih hidup dan 700 adalah fosil. Pulmonata paling awal diduga muncul pada batuan Karbon Atas, jarang fosil didapatkan pada batuan yang lebih tua dari Kapur Atas.
Subclass ini dibagi menjadi 2 ordo:

Ordo 4.4.1. Basommatophora
     Yang mewakili ordo ini mempunyai shell helicoids atau cup. Mereka adalah khas aqutic dan dapat hidup dalam air tawar, air payau, san air laut.
Contoh : Physa, Lymnea, Helisoma, dan Planorbis, Anisomyon adalah genus yang telah punah.

Ordo 4.4.2. Stylommatophora
     Binatangnya biasanya mempunyai shell helicoids. Anggota ordo ini sebagian besar adalah siput darat.
Contoh : Helix (U. Cret - Recent)
Arion dan Testacella adalah genus yang masih hidup

Sejarah Geologi Gastropoda
      Kisaran geologi dari beberapa superfamili Class Gastropoda diperlihatkan dalam klasifikasi (lihat klasifikasi). Dari kisaran ini dapat dilihat bahwa gastropoda mempunyai kisaran umur yang panjang. Fosil gastropoda yang paling tua adalah Scenella, Helcionella, Pelagiella yang dikumpulkan dari batuan Kambrium Bawah, Tetapi diduga dari sifat genus yang terawal (paling awal) mungkin tampaknya klas gastropoda dating dari kehidupan sebelum Kambrium. Dari jumlah yang diambil ternyata bahwa mereka terdapat bersama-sama dengan fosil marine lainnya (trilobite dan brachiopod), ini menunjukkan bahwa gastropoda pertama adalah asli marine water.

Ekologi Dan Paleokologi
      Gastropoda seluruhnya dianggap mempunyai penyebaran yang luas didunia dan memperlihatkan adaptasi yang baik. Mereka hidup dalam lingkungan laut, air payau, air tawar dan darat. Sebagian besar populasinya ditemukan dalam air laut dangkal dan jernih pada continental shelve, tetapi beberapa species hidup pada kedalaman continental lebih ari 5300 meter, dan didarat keduanya dalam bentuk darat dan air tawar telah ditemukan pada ketinggian 5480 meter. Gastropoda marine menunjukkan kisaran adaptasi yang luas. Sedikit hidup berenang (Heteropoda dan Pteropoda), tetapi sebagian besar adalah menghuni dasar dimana mereka bergerak bebas di dasar diatas lumpur dan pasir dan biasanya meninggalkan bekas yang khas. Atau melekat pada batuan dan tumbuhan dasar laut atau menggali dalam batuan yang lunak.
      Gastropoda pulmonata mempunyai penyebaran yang luas didunia dan ditunjukkan kisaran vertical yang besar. Bentuk air tawar yang telah diabil dari danau (di Himalaya) pada ketinggian 5480 mdpl dan ditempatlain sperti danau, rawa, dan sungai. Bentuk darat hidup pada tempat yang basah dan permukaan yang tertutup tumbuhan pada tebing atau tempat lain dimana ada tumbuhan penutup. Secara local gastropoda mungkin sangat melimpah.
         Dari cara hidup tersebut diatas dapat diketahui bahwa gastripoda merupakan salah satu anggota dari mollusca yang mempunyai sifat adaptasi yang baik. Pertama hidup dalam lingkungan air laut, kemudian meluas kelingkungan brackish dan akhirnya ke lingkungan air tawat dan darat. Selama adaptasi tersebut terjadi perubahan dalam organ kehidupan, dan akhirnya terlihat pula pada bagian kerasnya (shell). Karena itu dengan melihat bagian yang keras akan dapat diketahui cara hidupnya, dan akhirnya akan diketahui lingkungan pengendapannya.
         Kondisi laut merupakan tempat dimana banyak terlarutkan garam karbonat yang diperlukan untuk pembentukan shell gastropoda. Disamping itu juga laut merupakan tempat dimana hampir semua kehidupan berada. Gastropoda yang hidupnya dilaut dicirikan oleh dinding shell yang tebal, sebab laut merupakan tempat dimana terlarutkan garam-garam karbonat. Mempunyai hiasan shell yang komplek, karena bahan pembentuk shell yang berlebihan serta mempunyai warna yang bermacam-macam.
       Sedangkan gastropoda yang hidup didarat atau air tawar dicirikan oleh bentuk shell yang sederhana dan dinding shell yang tipis dan warna yang sederhana. Ukuran dari shell umumnya kecil.

Sifat fosil gastropoda
      Materi shell gastropoda Paleozoic biasanya tidak terawetkan, kecuali dalam batuan yang lebih muda. Fosil yang terekam dalam batuan terdiri dari external impression atau steinkern (core). Pada umumnya fosil gastropoda awal Paleozoic juga terawetkan dengan buruk, sehingga menyulitkan untuk diskripsi dan identifikasi yang diteliti. Diduga bahwa kagagalan pengawetan disbabkan kenyataan bahwa kebanyakan shell gastropoda paling awal disusun oleh aragonite yang merupakan mineral tidak stabil dari kalsium karbonat.                   
Sedikit dari shell yang terawetkan dengan baik adalah cyclonemids (Ord - Silur) dan platycerids (Sil - Perm) yang diduga sebagian tersusun oleh kalsit. Shell dari kebanyakan gastropoda Mesozoic dan Cenozoic umumnya terawetkan degan baik dan kemungkinan sebagian besar dari kalsit.
Selain meninggalkan fosil berupa shell, gastropoda juga meninggalkan fosil berupa jejak/ bekas (trail) diatas lumpur lunak atau pasir.

Kepentingan gastropoda dalam statigrafi
     Gastropoda berkembang cukup baik didaerah tropis. Beberapa spesies akan mencirikan lapisan teretntu. Ostingh seorang ahli paleontology telah berhasil menyusun stratigrafi neogen P. Jawa yang didasarkan atas fosil indek gastropoda.
1. Jenjang Rembang (Miosen Bawah)
Dicirikan oleh Turritella subulata
2. Jenjang Preanger (Miosen tengah)
Dicirikan oleh : Turritella angulata
Siphocyprea caput viperae
Vicarya verneuilli callosa
3. Jenjang Cirodeng (Miosen Atas)
Dicirikan oleh : Turritella angulata cramatensis
4. Jenjang Cirebon (Pliosen Bawah)
Dicirikan oleh : Turritella angulata acuticarinata
5. Jenjang Sunda (Pliosen Atas)
Dicirikan oleh : Turritella angulata tjicumpatensis
Terebra verbeeki, Conus sondeanus
Terebra insulinidae
6. Jenjang Banten (Pleitosen Bawah)
Dicirikan oleh : Turritella angulata bantamensis
Clavus malingpingensis.

5. Klas Cephalopoda
Cephalopoda, berasal dari kata 
- cephale : kepala
- podos : kaki 
      Adalah Mollusca yang berkaki di kepala. Contoh dari Klas ini yaitu Cumi-cumi dan sotong yang memiliki 10 tentakel yang terdiri dari 2 tentakel panjang dan 8 tentakel lebih pendek.

Saturday, April 8, 2017

PHYLUM BRACHIOPODA

5.1. Dasar Teori
Berasal dari bahasa latin :
Bracchium : lengan (arm)
Poda : kaki (foot)
     Artinya hewan ini merupakan suatu kesatuan tubuh yang difungsikan sebagai kaki & lengan. Phylum ini merupakan salah satu phylum kecil dari benthic invertebrates 

     Hingga saat ini terdapat sekitar 300 spesies dari phylum ini yang mampu bertahan & sekitar 30.000 fosilnya telah dinamaiMerupakan organisme yang hidup di laut dengan cara benthonik. Sebagian besar Brachiopoda hidup di dasar laut dengan menambatkan diri menggunakan flehy stalk atau pedikel. Bentuk tubuh Brachiopoda mirip dengan lampu etruscan, sehingga disebut juga dengan kerang lampu. Tubuh dari Brachiopoda tersusun oleh 2 valve mirip dengan Pelecypoda (Molluska).
Untuk dapat mengenali Brachiopoda, perlu mengetahui ciri fisik secara umum. Susunan tubuh Brachiopoda terdiri atas tubuh keras (valve) dan tubuh lunak. Lingkungan hidupnya biasanya terdapat didasar laut pada kedalaman kurang dari 100 m, dengan menambatkan diri pada tumbuh - tunbuhan atau dasar laut itu sendiri.

KLASIFIKASI PHYLUM BRACHIOPODA
1. Klas Articulata/Pygocaulina 
Cangkang atas & bawah (valve) dihubungkan dengan otot dan terdapat selaput & gigi. 
2. Klas Inarticulata/Gastrocaulina 
Cangkang atas & bawah (valve) tidak dihubungkan dengan otot dan terdapat socket dan gigi yang dihubungkan dengan selaput pengikat. 

SUSUNAN TUBUH
a. Tubuh Keras
     Brachiopoda tersusunleh 2 valve, yaitu ventral valve (atas) dan dorsal valve (bawah), dengan bentuk shell dari Brachiopoda adalah simetri bilateral. Susunan kedua shell dapat berupa bikonvek, dorsi - konvek, plano - konvek, konkavo - konvek, resupinate dan pseudo - resupinate. Pada salah satu valve terdapat lobang untuk keluar masuknya pedikel disebut dengan deltryum. Valve yang memiliki lobang tersebut dinamakan pedikel valve, sedangkan yang lainnya disebut brachial valve. Bagian kulit kerang yang mula - mula tumbuh disebut beak (apex), pertumbuhan kedua disebut umbo. Pada pertumbuhan berikutnya biasanya ditandai dengan adanya growth line.
Dorsal valve dan ventral valve berhubungan satu sama lain dengan engsel atau hinge line. Pada bagian dalam valve biasana ditemukan bekas - bekas urat daging yang disebut dengan muscle.

b. Tubuh Lunak
     Bagian lunak dari Brachiopoda susunan cukup kompleks. Pada bagian yang menempel dengan dinding shell terdapat dua buah mantel yang tersusun oleh kalsit atau ehitnous phospat. Brachipoda sudah dilengkapi dengan alat pencernaan (visceral) berupa saluran alimnetary dengan mulut, usus, hati, otot dan jantung yang menutupi perut. Pada tubuhya dijumpai cairan coclom sebagai darah dan melalui saluran yang disebut dengan vessel. Saluran dan otot ini kadang meninggalkan jejak pada dinding shell yang bermanfaat bagi taksonomi. Untuk menangkap makanan. Brachiopoda dilengkapi dengan dua lengan yang fleksibel disebut lofofor, yang dilengkapi dengan dua buah tentakel dan bulu getar (brachidium). Pada bagian urat syaraf terdapat 32 kelompok otot yang terbagi atas : otot aduktor untuk menutup valve, deduktor untuk membuka valve, dan otot adjustor untuk menggerakkan pedikel.

TAKSONOMI
Phylum Brachiopoda dibagi atas dua kelas, yaitu Klas Inarculata dan Klas Articulata. Pembagian klasifikasi pada Brachiopoda ini didasarkan pada :
1. Ada tidaknya engsel (hinge line)
2. Bentuk dari deltyriumnya (lobang pedikel)
3. Bentuk - bentuk engselnya
4. Bentuk - bentuk dari muscle scarsnya
5. Morfologi dari shellnya (valve)

1. Klas Inarculata
    Klas Inarculata hanya terdiri atas dua ordo, yaitu : Lingulida (Atremata) dan Actrotrelida (Neotremata). Ciri umum Inarculata adalah :
1. Valve terdiri dari Chitinoposphatic (horny phosphatic)
2. Mempunyai lobang anus
3. Urat daging kompeks
4. Tidak mempunyai hinge line (gigi dan soket)
5. Tidak mempunyai pedikel opening

1.1. Ordo Lingulida (Atremata)
     Dicirikan dengan memiliki bentuk pedikel berupa saluran pedikel memanjang seperti lidah. Bentuk valve umumnya oval sampai agak membulat (subrounded). Kemudian dari Kambrium bawah sampai resen.

1.2. Ordo Acrotretida (Neotremata)
     Ordo Acrotretida memiliki valva pedikel berbentuk tinggi, dengan valva brachial agak datar. Valvanya berbentuk ellips dengan pertumbuhan valvanya holoperipheral. Waktu pemunculan dari Kambrium bawah sampai Resen.

2. Klas Articulata
     Articulata dicirikan oleh bentuk oval dengan komposisi valva gampingan tersusun oleh dua valva konvek. Kedua valva dihubungkan oleh adanya hinge line berupa gigi dan soket. Adanya hinge line ini membuat susunan urat daging pada Articulata menjadi sederhana.
Penyelidikan terbaru dari Articulata menghasilkan suatu taksonomi baru, dimana pada saat ini Articulata terdiri atas 6 ordo.

2.1. Ordo Orthida
     Memiliki valva bikonvek dengan hinge line lurus pada sejumlah species berumur Kambrium - Perm. Terdiri atas 2 sub ordo yang dibedakan berdasar pada struktur cangkangnya.
a. Orthacea.
     Memiliki beberapa species pada Ordovisium, pada saat ini memiliki 2 genus yaitu Orthis dan Platytropia.
b. Dalmanellacea.
    Bentuk morfologi luar sama dengan Orthis, rib halus, genus yang ada Dalmanella. Tersebar melimpah pada Devon.

2.2. Ordo Strophomenida
    Strophomenida memiliki hingeline yang lurus sampai bagian terluar cangkang. Permukaan valvanya berupa psedopuctate dengan kombinasi valva concavo - convex (cembung - cekung). Genus penting : Strophomena, Chonetes dan Productus.

2.3. Ordo Pentamerida
     Pentamerida merupakan perkembangan dari Orthida, bentuk sama. Permukaan valava tidak berpori, dengan bentuk cembung kuat dan besar, dengan lingkungan kuat pada cardinallia. Hinge line pendek dan memiliki bukaan dethyrium pada valva pedikel berbentuk spondvlium. Pentamerida hadir pada Ordovisium - Perm.

2.4. Ordo Rhynconellida
     Ordo ini secara umum dicirikan oleh cangkang berbentuk membulat. Pada permukaan cangkang terdapat pori - pori dan menjarum. Bentuk hinge line pada ordo ini pendek. Pedikel valve memiliki sulcus dan lipatan pada beak protruding yang pendek. Bentuk valva adalah cembung ganda dan sederhana. Delthryium diperpendek dari samping oleh lempeng deltidial, ada bukaan kecil biasanya menyisakan dibawah umbo untuk pedikel. Rhynconellida muncul pada Ordovisium tengah dan melimpah pada Mesozoikum.

2.5. Ordo Spiriferida
     Spiferida merupakan kelompok yang besar dan penting. Bentuk cangkang terlipat dengan rib yang meradial, kombinasi cangkang cembung kuat. Permukaan cangkang tidak berpori. Ciri khusus ordo ini adalah spiral brachidium. Pada valva pedikel dipersempit oleh lempengan deltidial. Ordo ini melimpah pada Ordovisium tengah sampai Perm atas.

2.6. Ordo Terebratullida
    Merupakan Brachiopoda yang permukaan cangkangnya berpori dan halus. Bentuk cangkang terlipat dengan hinge line pendek dan brachidium seperti toop (ancylopegmate). Foramen membulat pada daerah beak. Ordo Terebratullida muncul pada Ordovisium sampai Resen.

Fosil Brachiopoda & Kegunaannya dalam Geologi
     Kegunaan fosil Brachiopoda ini yaitu sangat baik untuk fosil indeks (index fossils) untuk strata pada suatu wilayah yang luas. 
- Contoh fosil dari phylum ini :
Contoh kegunaan fosil brachiopoda dalam geologi :
Brachiopoda dari Klas Inarticulata ; Genus Lingula merupakan penciri dari jenis brachiopoda yang paling tua, yaitu Lower Cambrian. Jenis ini ditemukan pada batuan Lower Cambrian dengan kisaran umur 550 juta tahun yang lalu 
Secara garis besar, jenis Phylum Brachiopoda ini merupakan hewan-hewan yang hidup pada Masa Paleozoikum, sehingga kehadirannya sangat penting untuk penentuan umur batuan sebagai Index Fossils.

PHYLUM COELENTERATA

4.1. Dasar Teori
     Coelenterata berasal dari kata Koilos/Hollow yang berarti cekung dan Enteron/intestine yang berarti dalam. Sehingga dapat diartikan sebagai binatang yang mempunyai cekungan (berlekuk) dibagian dalamnya atau disebut juga semacam kantong berlapiskan endoderm. Phylum ini meliputi golongan invertebrata yang berjumlah sangat banyak dengan bentuk - bentuk yang sangat beragam. Perkembangbiakan bisa dilakukan baik secara sexual maupun asexual. Hidup dilingkungan aquatik secara sesil (menambat) bisa berkoloni maupun soliter.
     Dinding tubuh binatang ini tersusun atas tiga lapisan, yaitu : ectoderm, mesoglea, dan endoderm. Secara umum kehidupan ini memiliki dua bentuk berbeda yaitu polyp dan medusa. Bentuk polyp dicirikan oleh bentuk menyerupai tabung, dan biasanya hidup secara menambat dan memiliki satu atau lebih lingkaran dari tentakel. Mempunyai bagian yang keras, disebut sebagai Eksoskeleton/Hydrotheca. Bentuk medusa merupakan makhluk yang berenang dengan bebas, berbentuk seperti payung dan memiliki sejumlah tentakel sepanjang tepi dari tubuhnya, dengan mulut terletak pada bagian tengahnya. Dijumpai 2 macam Canal (Circular (berjumlah satu) & Radial (berjumlah empat & kelipatannya).

Adapun ciri - ciri umum dari Coelenterata :
1. Symetri radial, atau bilateral dengan suatu lobang yang berfungsi sebagai mulut (oral) dan umumnya dikelilingi oleh tentakel - tentakel (bulu getar).
2. Termasuk fauna invertebrata (tidak bertulang belakang).
3. Dinding tubunya selalu tersusun oleh dua lapisan sel, bagian luar disebut epidermis (ektoderm) dan bagian dalam disebut gastrodermis (endoderm), juga ada  lapisan tipis yang disebut mesoglea yang memisahkan antara epidermis dengan endodermis. Juga adanya nemaatocyst yang merupakan sel yang kecil pada bagian epidermis.
4. Mulutnya langsung berhubungan dengan rongga gastrovaskuler yang disebut dengan enteron yang merupakan nama dari filum ini. Rongga tersebut berfungsi sebagai tempat pendistribusian makanan. Enteronn ini merupakan bentuk rongga yang sangat sederhana, tetai pada beberapa dapat dijumpai memiliki ruang - ruang yang terbagi secara radier disebut dengan mesenteries.
5. Coelenterata hanya memiliki jarungan sel - sel sepanjang dinding tubuhnya yang berfungsi sebagai sistem syaraf.
6. Disekitar mulut tdp tentakel yang berfungsi sebagai anus.
7. Mempunyai 2 bentuk :
- Polyp     : kerangka zat tanduk/karbonat 
- Medusa : tidak mempunyai bagian yang keras, dijumpai sebagai fosil hanya  berupa jejak (impression).

PERKEMBANGBIAKAN
1. Sexual (pada Medusa)
Gonad menghasilkan sel jantan & sel betina (hermprodit). Sel jantan dikeluarkan melalui mulut, berenang masuk ke individu lain yang sama spesiesnya melalui mulut. Sel jantan & betina akan membentuk zygot, lalu membentuk larva bercilia, berenang melalui mulut menjadi individu baru 
- Pada Polyp : Gastrodermis menghasilkan sel jantan & sel betina.
2.  Asexual (hanya pada Polyp)
a. Fision : bagian keras membelah menjadi 2 bagian, tetapi masih saling menempel. 
b. Rejuvenencens : bagian keras membelah jadi 2 bagian dimana masing-masing menjadi individu baru. 
c. Budding : pada dinding tubuhnya bisa mengadakan tunas baru, kecuali pada bagian yang ada sengatnya, biasanya disekitar mulut. 

Untuk menggolongkan dalam tiap - tiap klas pada filum Coelenterata, didasarkan atas :
1. Hubungan antara phylogenetic
2. Bagian -bagian tubuh yang lunak
3. Perputaran (siklus) kehidupan termasuk cara perkembangbiakannya.
4. Struktur dan bentuk arsitektur rangka luar
5. Struktur rangka dalam

1. Klas Hydrozoa
     Dominan hidup di laut, dengan kantong peryt tidak terbagi. Mulut dikelilingi tentakel, tetapi bagian dasarnya tidak memiliki gullet (stomadeum seperti Anthozoa). Keturunannya sebagai perubahan antara koloni polyp dengan medusa. Diameter 2 - 6 mm, medusa kecil sebagai craspedote. Hydrozoa Resen hidup pada keadalaman 8000 meter.
    Sebagian besar  Hydrozoa mempunyai tubuh keras yang tersusun ileh zat tanduk atu zat gampingan (calcareous). Hanya pada bebrapa yang hidup pada air tawar tidak mempunyai rangka. Hydrozoa diketahui mulai hidup pada zaman Kambrium. Hydrozoa sendiri dibagi atas empat ordo.

1.1. Ordo Hydroida
     Merupakan Hydroida dengan bentuk polyp yang berkembang baik, hidup secara soliter maupun berkoloni. Walaupun begitu beberapa hydroida ada yang berbentuk medusa. Bentuk luar dari rangkanya berbentuk dendritik atau seperti bunga, dan berkomposisi zat tanduk ataupun gampingan yang memungkinkan terawetkan.
     Fosil tertua dari hydroida adalah berumur Kambrium Bawah, yang ditemukan di Amerika Uatara dan Australia. Tempat hidupnya adalah laut dangkal. Contoh genus adalah Cryptolaria.

1.2. Ordo Hydrocorallina
     Memiliki bentuk polyp, kadang sering disebut juga dengan koral. Dikenal sebagai salah satu pembenatuk reef (terumbu), memiliki rangka gampingan, serta tumbuh ke atas secara vertikal.
     Bentuk polypnya bermacam - macam dan mempunyai fungsi sendiri, yaitu gastrozoid (polyp pemakan) dan dactylozoid (polyp berlindung). Hidup di daerah dengan iklim tropis dan berada di laut dengan kedalaman sampai 30 m. Tinggi petumbuhan tidak lebih dari 0,5m serta tersusun rangka bersifat gampingan (calcareous). Merupakan bagian yang cukup berperanan dalam pembentukan coral reef (terumbu karang). Hidup diperkirakan muncul pada zaman Trias. Contoh genus Millepora dan Stylaster.

1.3. Ordo Trachylina
     Bentuk tubuh berupa medusa dan memiliki velum yang dibentuk dari ovum. Sebagian besar Trachylina adalah coelenterata yang primitip, terutama yang terbentuk medusa. Hidup secara pelagic dan pada habitat laut dengan kedalaman dari permukaan sampai 5000 m dan bersifat hangat. Beberapa ada yang hanya hidup di laut dangkal, bahkan ada yang di air payau maupun tawar. Karena sifatnya yang lunak, fosil sangat jarang dijumpai. Contoh genus Kurklandia (Kapur Bawah).

1.4. Ordo Siphonophora
     Bentuk polymorphic, hidup berenang maupum menambat. Merupakan coelenterata dengan tubuh peralihan antara medusa dengan polyp. Hidup dari Zaman Kmabrium sampai Devon. Contoh genus Plectodiscus ditemukan di New York.

2. Klas Stromatoporoidae
     Tubuh tersusun oleh rangka bersifat gampingan yang disebut dengan coenosteum. Hidup di lingkungan marine di dasar laut yang dangkal. Sromatopoidea merupakan kehidupan yang telah punah. Perkiraan punah pada masa paleozoikum sampai mesozoikum.
Pada masa hidupnya golongan ini membentuk koloni - koloni dengan tipe - tipe sebagai berikut :
a. Hyrozoid, merupakan koloni yang masif, pipih atau spherical dengan permukaan atasnya berbuku - buku (noduse).
b. Beatricoid, merupakan koloni yang berbentuk tabung dengan permulaan luarnya tidak rata (undulating) dengan sebuah sumbu tengah yang berbentuk tabung pula.

3. Klas Scyphozoa
     Scyphozoa merupakan jenis Coelenterata dengan bentuk tubuh medusa. Hidup secara soliter dan berenang. Tubuhnya berbentuk payung dengan garis tengah mencapai lebih kurang 2 meter dan mempunyai tentakel yang panjangnya dapat mencapai 40 meter. Hidup diduga dari Kambrium Tengah sampai Resent, dimana fosilnya lebih sering dijumpai dalam bentuk cetakan. Dengan ini oleh para ahli dibagi dalam empat ordo :

3.1. Ordo Stauromedusae
     Hidup secara menambat dengan menggunakan mulut yang bertangkai pada dasar laut, terdapat didaerah laut yang dingin didekat pantai. Bentuknya menyerupai piala (goblet - shaped), belum ada fosil yang ditemukan.

3.2. Ordo Cubomedusae
     Bentuk tubuhnya menyerupai bel - kubus, memiliki empat atau lebih tentakel, dengan penyebaran sepanjang laut yang hangat. Fosilnya pertama kali ditemukan pada Batugamping Solenhofen yaitu Medusina quodrata berumur Yura.

3.3. Ordo Coronata
     Hidup di laut dalam, fosilnya ditemukan pada Batugamping Bavaria yang berumur Yura. Contoh fosil adalah Camplostroma roddyi.

3.4. Ordo Discomedusae
     Berbentuk medusa, hidup dengan penyebaran yang sangat luas di laut. Dikenal sebagai ikan Ubur - ubur. Contoh Rhizostoma yang hidup sampai sekarang.

4. Klas Anthozoa
     Klas ini tersusun oleh sekelompok bunatang yang khusus idup di laut, mencakup golongan koral dan anemon laut. Kelompok ini mempunyai evolusi yang sangat cepat sehingga banyak yang spesiesnya mempunyai kisaran yang pendek dan berguna sebagai fosil index. Melimpah sejak Jaman Ordovician.  
     Binatang koral, yang biasa disebut sebagi polyp, membentuk rangka luar yang bersifat gampingan yang disebut coralite, berbentuk cawan atau kantong yang berkembang ke arah luar maupun kearah atas. 
     Koral diklasifikasikan berdasar keadaan dan susunan septanya dan kenampakan rangka yang lain. Sebagai contoh, golongan koral tanduk (horn coral) yang banyak hidup di Kurun Paleozoik, hanya menyisikan pertambahan septa hanya di empat lokasi saja sepangjang pertumbuhannya. Oleh karena itu jenis koral tersebut sebagai tetrakoral. Pada jenis koral paleozoik lain, tabulae adalah bagian yang paling penting dari theca sedangkan septanya tidak dijumpai. 
     Koral seperti iini disebut sebagai koral tabulata, yang umunya membentuk koloni yang menyerupai sarang lebah dan koral yang berbentuk sebagai rantai (Halysites). Golongan tabulata dan koral tanduk punah pada akhir Paleozoik. Koral yang berkembang pada Mesozoik dan Kenozoik umumnya golongan yang memiliki simetri septa lipat enam, oleh karenanya disebut sebagai golongan Hexakoral dan termasuk kedalam Ordo Sclerectina.
     Golongan koral hidup pada laut jernih, hangat dan dangkal. Pada masa kini, koral merupakan pembentuk terumbu utama yang hidup pada kedalaman 15 meter atau kurang. Temperatur yang mereka kehendaki adalah antara 25 ⁰C hingga 29 ⁰C dan hanya terdapat mulai lintang 0⁰ (ekuator) hingga 30⁰ LU dan 30⁰ LS. Dalam petumbuhannya membentuk terumbu, koral bersimbiosis dengan algae, yang memerlukan cahaya matahari untuk melakukan fotosintesis. Hal ini berakibat bahwa koral umumnya tidak tumbuh pada kedalaman lebih dari 100 meter.
     Golongan ini sebagian besar hidup secara soliter, selebihnyaa hidup secara berkoloni. Mempunyai bentuk tubuh seperti bunga (Anthos), dimana pada bagian atas tubuhnya terdapat mulut yang dikelilingi tentakel - tentakel. Mulutnya dihubungkan sampai kebagian dalam tubuhnya (enteron) oleh gullet. Dinding tubuhnya terdiri dari epidermis, mesoglea dan gastrodermis. Sebagian besar golongan ini mempunyai eksoskeleton (rangka luar) yang masif. Sedangkan pada golongan “Sea nemones” (bunga laut) tidak mempunyai skeleton (rangka).
     Hewan ini umumnya terbuat dari zat chitin berbentuk tabung (cup). Tempat dimana hewan ini tinggal disebut callyx. Strutur rangka disebut theca atau corallite. Pada theca didapatkan sekat - sekat, merupakan bidang yang disebut septum. Septa - septa tersebut berguna didalam klasifikasi. Selain itu juga ada sekat horisontal yang disebut tabula, sedangkan yang horisontal tetapi terputus - putus disebut dissepiment.  
     Perkembangbiakan klas ini umumnya bertunas, dimana tunas - tunas yang baru tumbuh ini tidak dari induknya, jadi membentuk satu koloni. Perkembangbiakan dengan bertunas disebut lateral buding, sedangkan perkembangbiakan dengan sistem membelah diri disebut caicyl dimana tunas - tunas baru akan hidup scara soliter.

Anthozoa dipisah menjadi beberapa subklas, yaitu :
4.1. Sub - klas Octocorallina
     Hewan yang berciri khas memiliki 8 buah tentakel dan 8 mesentris. Memiliki pseudotheca (septal spine) dan koralit - koralit berhubungan satu sama lain dengan saluran - saluran yang berbentuk tabung. Contoh Tubipora mursica (resen).

4.2. Sub - klas Hexacoralina
     Adalah coral yang hidup berkoloni maupun soliter, dimana ciri khasnya adalah septanya dalam enam siklus. Contoh Meandrina, Septastrea.

4.3. Sub - klas Tetracorallia
     Tetracorallia ini umumnya hidup secara soliter, walaupun ada yang hidup secara koloni. Ciri khas golongan ini yaitu memiliki septa yang tersusun didalam empat kwadran. Bentuk ini kadang - kadang disebut juga dengan rugosa, sering juga disebut sebagai koral tanduk (horn corals) dan hidup dari Ordovisium Bawah serta punah pada zaman Perm. Contoh : Zapherentis.

4.4. Sub - klas Tabulata
     Golongan ini hidup pada masa Paleozoikum yang telah punah. Bentuk tubuhnya dicirikan adanya theca yang berbentuk tabung, tabula sangat banyak dan berkembang sangat baik. Pada dindingnya ditembusi oleh lobang - lobang halus disebut mural pores. Contoh Favosites (Ordovisium Bawah - Perm). Halyites wallychi REED (Silur).

4.5. Sub - klas Schizocorallia
   Hidup dari Paleozoikum sampai Mesozoikum dan telah mengalami kepunahan. Komposisi gampingan, dapat berbentuk sederhana bercabang atau masif. Yang hidup berkoloni tidak mempunyai septa atau tidak berkembang baik.

Peranan dalam Geologi
     Coelenterata merupakan penciri kehidupan terumbu karang di laut, sehingga kehadirannya sangat membantu dalam penentuan umur dan terutama lingkungan pengendapannya (lingkungan laut/marine).

STRUKTUR BAGIAN DALAM BUMI

I.1. Struktur bagian  Dalam Bumi Secara keseluruhan, bumi terbagi menjadi empat aspek yaitu; atmosphere (udara), hydrosphere (air), lit...